
Amory Lovins
Artikel dari Nanang Manaf.
Amory Lovin dikenal dengan banyak atribut. Ia seorang ahli psikologi teori, sebagai adviser untuk Badan Energi Amerika yang mengurusi masalah efesiensi energi dan industri otomotif, dan juga salah seorang pendiri Rocky Mountain Institute, think thank yang merumuskan visi dunia tanpa minyak pada tahun 2025.
Pada AAPG (Association of American Petroleum Geologist) Annual Convention di Houston, April 2006 lalu, ia memberikan kuliah dalam luncheon talk di Divisi Environmental Geosciences dan menambah atribut yang melekat padanya menjadi seorang Wildcatter (orang yang bekerja untuk menemukan cadangan migas baru melalui kegiatan eksplorasi). read more…
Oleh Singgih Widagdo
Pertambangan masih menjadi primadona penggerak ekonomi Pulau Kalimantan. Aktivitas penambangan pola shovel dan truk, 24 jam berlangsung tanpa henti.
Hutan sebagai sumber daya alam (SDA) yang vital untuk kehidupan justru dilupakan. Belum lagi bicara karbon, satu hektar hutan mampu menyerap karbon 200-350 ton. Memang ironis, aktivitas eksplorasi pertambangan sering kali berbenturan dengan konservasi SDA.
Bicara soal Kalimantan, dalam hal kerusakan lingkungan, siapa yang harus bertanggung jawab?
read more…
Pentingnya penelitian
Artikel dari Pak Nanang Manaf
Kegiatan eksplorasi migas merupakan industri yang berbasis pada data, knowledge, dan experiences. Akurasi dan ketersediaan data yang dikelola dengan baik, kemampuan melakukan interpretasi data dengan latar belakang pengetahuan dan konsep yang matang, serta pengalaman dalam melakukan study dengan cakupan yang luas, akan menjadi modal yang kuat untuk mencapai keberhasilan di dalam kegiatan usaha pencarian cadangan migas baru.
Tentu saja ketiga unsur tersebut perlu didukung oleh kebijakan perusahaan yang mendorong terhadap kegiatan penelitian tersebut, melalui alokasi dana dan sumberdaya manusia yang memadai. read more…
Beberapa waktu yang lalu di Padang, sewaktu menjadi khatib sholat Idul Adha 1430 H, Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, menyatakan bahwa bencana adalah akibat dari kerusakan moral. Tak pelak pernyataan ini menuai kontraversi. Banyak kalangan yang tidak senang dengan pendapat tersebut. Pernyataan itu kemudian dikutip di media nasional dan internasional. Tulisan ini akan melihat pendapat tersebut dalam diskursi yang ada mengenai bencana.
Dari perspektif agama Islam, barangkali apa yang dinyatakan oleh Tifatul memang benar adanya. Tifatul tentulah lebih tahu soal ini. Bagi saya yang menarik adalah bahwa pembahasan mengenai bencana melebar, sehingga kalangan agamawan seperti salah satu pegiat Majelis Ulama Indonesia (MUI) merasa perlu mendukung pendapat Tifatul tersebut. Dengan demikian, bencana telah menjadi fenomenon sosial.
Selama ini, ketika orang berbicara tentang bencana, terutama bencana tsunami, gempabumi dan gunungapi meletus, seringkali orang mengacu pada ilmu geologi dan geofisika. Bencana banyak terdomesitifikasi dalam spektrum kedua disiplin ilmu tersebut. Padahal kita tahu bahwa objek studi kedua disiplin tersebut adalah bumi. Kalau sudah tahu tentang patahan pada bumi misalnya, apa selanjutnya yang akan dilakukan oleh kedua disiplin ilmu ini dengan patahan tersebut? Yang dapat mereka lakukan adalah peringatan. Selanjutnya adalah persoalan sosial.
Dengan demikian, dimulai dari momen itu, bencana secara perlahan berubah menjadi fenomenon sosial. Pada dasarnya sebuah bencana disebut bencana jika dan hanya jika menimpa manusia. Tentang hal ini dapat kita cermati dari perbandingan dua kasus tanah longsor.
Pertama, kasus longsoran Sherman di Alaska yang secara langsung merupakan konsekuensi dari gempabumi pada tahun 1964. Longsoran Sherman melibatkan 29 juta kubik batuan yang bergerak dalam kecepatan 180 km/jam menuju lembah tak berpenghuni. Kecuali dari sudut pandang flora dan fauna dan keingintahuan para geolog, longsoran Sherman tidak masuk catatan sebagai bencana. Bahkan ia hanya diketahui secara tak sengaja karena adanya survei rutin foto udara melalui pesawat. Sebaliknya, kedua, longsoran Aberfan di Wales Selatan yang 193 kali lebih kecil dan 25-30 kali bergerak lebih lambat, tetapi menyebabkan 144 orang korban, disebut sebagi bencana yang besar.
read more…
Gempa (EQ-earthquake) besar (“large, but it was not huge”, kata Jian Lin dari WHOI –Woods Hole Oceanographic Institution) di Haiti pada 12 Januari 2010 terjadi akibat patahan batuan di sebuah sesar mendatar sinistral bernama Enriquillo-Plantain Garden Fault (lihat ulasan di bawah). Sesar ini panjangnya 500 km, wilayah pematahan kemarin terjadi pada sebuah segmen sesar dengan panjang 50-60 km. Sesar ini sesar aktif yang bergerak dengan laju 7mm/tahun.
Dalam proses pergeserannya, tentu sesar ini tidak mulus bergeser seperti pergeseran antara persentuhan dua balok besi yang lurus dan rata. Tetapi, pasti di beberapa tempat terdapat penguncian tektonik (coupling) pergerakan karena berbagai geometri segmen batuan/kerak Bumi yang acak. Pergerakan di suatu tempat memang terkunci, tetapi secara regional dua segmen di kedua sisi Enriquillo-Plantain Garden Fault bergerak terus karena mengakomodasi gerakan Lempeng Amerika Utara dan Lempeng Karibia dengan laju 20 mm/tahun. Maka, wilayah terkunci itu hanyalah sementara sebab di luarnya terus bergerak. Di wilayah terkunci, gaya tekan akibat pergeseran batuan akan terakumulasi sekian lama membentuk energi potensial yang sangat besar, misalnya selama puluhan atau ratusan tahun. Kala segmen batuan/kerak tak kuat lagi menahan stress yang begitu besar, pecahlah ia dan bergeser –rupture and slide, patahan, sesar. Seketika energi potensial yang kumulatif segera berubah menjadi energi kinetik dengan magnitude yang sama (hukum kekekalan energi) tetapi tersebar ke segala arah dalam bentuk energi gerak –goyangan, ayunan, dan goncangan gempa kita menyebutnya.

posisi Haiti dalam kerangka teltonik lempeng (sumber iamge: http://www.immortaltechnique.co.uk/)
Skala magnitude 7,0 Mw atau 7,0 SR sebenarnya titik awal saja untuk sebuah gempa besar, tetapi mengapa korban tewas di Haiti begitu besar (bisa ratusan ribu orang tewas, dan sekitar 1,5 juta orang terkena dampaknya menurut berita terakhir). Ada tiga penyebab, paling tidak : (1) gempanya dangkal – 13 km, (2) terjadi di pinggir ibu kota Haiti, (3) menyerang kawasan yang bisa disebut kumuh di wilayah itu dengan bangunan tempat tinggal yang dibangun seadanya. Bahkan istana raja Haiti pun diporakporandakan gempa, apalagi kawasan kumuh di pinggir ibu kota.
read more…

Pak Nanang Manaf
Artikel Pak Nanang Manaf
Pernahkah kita membayangkan dari sebuah impian lahir suatu peristiwa besar, bahkan mencetuskan sejarah revolusi suatu bangsa?
Itu terjadi kurang lebih 109 tahun yang lalu di sebuah kota kecil, di sudut tenggara negara bagian Texas, Amerika, yang dikenal sebagai kota Beaumont. Pattillo Higgins, seorang geologist yang gigih bermimpi suatu hari kelak kota kelahirannya itu akan menjadi sebuah kota pelabuhan yang ramai dengan pabrik-pabrik yang berdiri megah, kapal-kapal besar berlalu lalang, keluar masuk pelabuhan, serta tanah pertanian yang luas, yang semuanya digerakan dengan sumber energi minyak bumi. Padahal pada saat itu, minyak bumi baru ditemukan dalam jumlah yang kecil dan terbatas hanya dimanfaatkan untuk penerangan dan bahan pelumas saja. Batu bara merupakan sumber energi utama pada masa itu. read more…

FW Junghuhn
Artikelnya Pak Awang HS
Franz Wilhelm Junghuhn, penyelidik alam Jawa terpenting pada masanya (1835-1848), penyusur dan pendaki gunung-gunung di Jawa; kembali mengunjungi Jawa yang sangat dicintainya. Kali ini, ia tidak naik gunung lagi, tetapi ia mengunjungi perguruan tinggi di Bandung -ITB (Oktober 2009) kemudian melanjutkan perjalanannya ke Erasmus Huis -Kedutaan Besar Belanda di Jakarta (Desember 2009-Januari 2010). Saya menemuinya di Erasmus Huis pada hari terakhir ia berada di Jakarta.
read more…
Artikel Pak Nanang Manaf
Barnett Shale
Perkembangan ilmu kebumian dan teknologinya, telah menggeser konsep mengenai Petroleum System dengan penemuan lapangan-lapangan gas pada lapisan batuserpih yang bernama Barnett Shale (batuserpih Barnett) di Fort Worth Basin, North-Central Texas, Amerika Serikat. Louis S Durham, seorang koresponden Explorer, menyebutnya sebagai sensasi dalam kurun waktu 17 tahun. The 17-year overnight sensation….. read more…
Inspirasi Pak Nanang Manaf (Pertamina-EP)
Tahun 2009 yang lalu merupakan masa-masa sulit dan penuh dengan ketidak pastian bagi kegiatan eksplorasi migas dunia. Seperti yang diungkapkan Larry Nation, AAPG Communication Director, dalam artikelnya di Explorer edisi Januari 2010 yang bertajuk 37 Percent Exploration Success Rate : Major Find Brighten Tough Year, kegiatan eksplorasi pada masa ini seperti berjalan diatas cangkang telur, begitu rentan dan rapuh, sehingga merupakan tahun-tahun yang penuh tantangan. read more…

Pak Awang
Cerita dari Pak Awang
Bumi yang penuh kehidupan tingkat kompleks itu sebuah takdir yang telah diatur atau sekadar kebetulan saja ?
Kemajuan penelitian-penelitian astronomi, kosmologi (mempelajari asal muasal Alam Semesta), eksobiologi/astrobiologi (mempelajari kehidupan ekstraterestrial atau kehidupan di luar Bumi) dan planetary geology (mempelajari geologi planet-planet) serta semua publikasinya, menunjukkan bahwa Bumi kita yang penuh kehidupan kompleks (kompleks di sini adalah multisel dan memunculkan manusia seperti kita yang cerdas dan berteknologi) itu adalah sesuatu yang unik, bukan yang umum, di Alam Semesta. Bagaimana kehidupan kompleks itu bisa muncul di Bumi, dan kelihatannya sulit di tempat lain, akan menunjukkan bahwa ia memang dirancang untuk bisa dihuni -artinya suatu takdir yang telah diatur (destiny), bukan oleh suatu kebetulan belaka (by chance).