Plato Gamping Ayamaru, Papua dan Hunian Prasejarah

2010 March 10
by IAGI-Admin

Written by : Awang H Satyana

Bekas-bekas hunian manusia prasejarah (purba) yang punya industri perkakas batu ditemukan di banyak tempat di Jawa, terutama di Pegunungan Sewu, Pacitan. Begitu banyaknya artefak berupa perkakas batu pernah ditemukan di sini, sehingga menghasilkan istilah-istilah tertentu seperti kebudayaan Pacitanian atau industri Kali Baksoko. Kali Baksoko adalah sebuah kali di wilayah ini tempat ditemukannya banyak artefak.

Itu di Jawa, tempat paling banyak ditemukannya artefak perkakas batu. Kelihatannya saat bermigrasi dulu, para penghuni pertama negeri kita memilih Jawa sebagai pangkalan terakhirnya. Pemikiran ini disebabkan begitu banyaknya artefak ditemukan di Jawa, juga penemuan fosil-fosil tulang hominid atau manusia purba. Meskipun demikian, terdapat bukti bahwa beberapa generasi manusia purba ini kemudian dari Jawa bermigrasi ke timur ke Nusa Tenggara bahkan sampai Australia. read more…

Sasmita Blow-out dari Sumur Minyak

2010 March 2
by IAGI-Admin

Artikel Sugeng Hartono, dimuat di Kontan No. 32, Tahun II, 11 Mei 1998

Sasmita Blow-out dari Sumur Minyak

Diasuh Wimar Witoelar, perintis acara Talk Show dan Perspektif di televisi Indonesia, konsultan dari PT InterMatrix untuk manajemen, corporate development, dan public affair.

Pertanyaan:

Setiap kejadian alam tentunya akan didahului dengan tanda-tanda atau sasmita. Kalau kita cukup peka membaca sasmita alam, sebagai manusia yang berakal budi, kita diharapkan bisa menghadapi kejadian alam dengan baik. Misalnya, sebelum gunung Merapi meletus pasti ditengarai gempa bumi yang berkepanjangan, atau suhu sekitar gunung meningkat, sehingga memungkinkan penduduk dan ternaknya mengungsi. read more…

Gempa Chile 8.8 Mw 27 Februari 2010

2010 February 28

Lokasi gempa di Chile (sumber: beranda warta USGS)

Lokasi gempa di Chile (sumber: beranda warta USGS)

Sebuah gempa besar (moment magnitude 8,8 Mw) terjadi di pantai Chile (lokasi episentrum : 35.846°S, 72.719°W), Amerika Selatan hari Sabtu 27 Februari 2010 saat penduduk Chile tidur lelap pukul 03:34:14 waktu setempat (13:34:14 WIB). Gempa berpusat dari kedalaman 35 km yang berdasarkan moment tensor solution berupa pematahan batuan sesar anjak (thrust) dengan jurus 11 deg NE dan kemiringan 25 deg.

Secara tektonik, gempa berlokasi sekitar 250 km di sebelah timur jalur subduksi lempeng samudera Nazca yang menunjam di bawah lempeng benua Amerika Selatan. Arah pematahan gempa lebih kurang sejajar dengan jalur subduksi ini, sehingga konvergensi antara Nazca dan Amerika Selatan dengan kecepatan 8 cm/tahun ini dapat dipertimbangkan sebagai penyebab pematahan batuan yang mengakibatkan gempa. Kedalaman gempa pada 35 km menunjukkan bahwa pusat gempa berasal dari bidang kontak (interface) antara lempeng Amerika Selatan dan lempeng Nazca yang miring masuk ke bawah Amerika Selatan. (Gambar)

read more…

Seperti apa Gajah itu ?

2010 February 19
by IAGI-Admin

By Nanang Manaf

elephant1Mungkin kita pernah dengar cerita beberapa orang buta yang mencoba mendeskripsikan bentuk seekor gajah yang didasari persepsinya setelah meraba salah satu bagian dari tubuh gajah.

Orang buta pertama menyebut gajah menyerupai sebuah kipas, karena memang persepsinya didasari oleh pengalaman meraba bagian kuping dari gajah. Orang buta lainnya mempunyai pendapat yang berbeda, setelah melalui pengalamannya, meraba bagian yang berbeda. Sehingga muncul kesimpulan bahwa gajah itu binatang seperti ular ditafsirkan oleh orang buta yang meraba belalai gajah, gajah seperti tiang ditafsirkan oleh orang buta yang meraba bagian kaki gajah dan penafsiran lainnya. read more…

Dunia tanpa minyak bumi

2010 February 8
by IAGI-Admin
amory_lovins1

Amory Lovins

Artikel dari  Nanang Manaf.

Amory Lovin dikenal dengan banyak atribut. Ia seorang ahli psikologi teori, sebagai adviser untuk Badan Energi Amerika yang mengurusi masalah efesiensi energi dan industri otomotif, dan juga salah seorang pendiri Rocky Mountain Institute, think thank yang merumuskan visi dunia tanpa minyak pada tahun 2025.

Pada AAPG (Association of American Petroleum Geologist) Annual Convention di Houston, April 2006 lalu, ia memberikan kuliah dalam luncheon talk di Divisi Environmental Geosciences dan menambah atribut yang melekat padanya menjadi seorang Wildcatter (orang yang bekerja untuk menemukan cadangan migas baru melalui kegiatan eksplorasi). read more…

Sisi Ironis Pertambangan

2010 January 25
by admin

Oleh Singgih Widagdo

Pertambangan masih menjadi primadona penggerak ekonomi Pulau Kalimantan. Aktivitas penambangan pola shovel dan truk, 24 jam berlangsung tanpa henti.

Hutan sebagai sumber daya alam (SDA) yang vital untuk kehidupan justru dilupakan. Belum lagi bicara karbon, satu hektar hutan mampu menyerap karbon 200-350 ton. Memang ironis, aktivitas eksplorasi pertambangan sering kali berbenturan dengan konservasi SDA.

Bicara soal Kalimantan, dalam hal kerusakan lingkungan, siapa yang harus bertanggung jawab?

read more…

Riset itu penting, tapi….

2010 January 25
by IAGI-Admin

Pentingnya penelitian

nanangmanaf

Artikel dari Pak Nanang Manaf

Kegiatan eksplorasi migas merupakan industri yang berbasis pada data, knowledge, dan experiences. Akurasi dan ketersediaan data yang dikelola dengan baik, kemampuan melakukan interpretasi data dengan latar belakang pengetahuan dan konsep yang matang, serta pengalaman dalam melakukan study dengan cakupan yang luas, akan menjadi modal yang kuat untuk mencapai keberhasilan di dalam kegiatan usaha pencarian cadangan migas baru.

Tentu saja ketiga unsur tersebut perlu didukung oleh kebijakan perusahaan yang mendorong terhadap kegiatan penelitian tersebut, melalui alokasi dana dan sumberdaya manusia yang memadai. read more…

Bencana Sebagai Fenomenon Sosial

2010 January 22

Beberapa waktu yang lalu di Padang, sewaktu menjadi khatib sholat Idul Adha 1430 H, Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, menyatakan bahwa bencana adalah akibat dari kerusakan moral. Tak pelak pernyataan ini menuai kontraversi. Banyak kalangan yang tidak senang dengan pendapat tersebut. Pernyataan itu kemudian dikutip di media nasional dan internasional. Tulisan ini akan melihat pendapat tersebut dalam diskursi yang ada mengenai bencana.

Dari perspektif agama Islam, barangkali apa yang dinyatakan oleh Tifatul memang benar adanya. Tifatul tentulah lebih tahu soal ini. Bagi saya yang menarik adalah bahwa pembahasan mengenai bencana melebar, sehingga kalangan agamawan seperti salah satu pegiat Majelis Ulama Indonesia (MUI) merasa perlu mendukung pendapat Tifatul tersebut. Dengan demikian, bencana telah menjadi fenomenon sosial.

Selama ini, ketika orang berbicara tentang bencana, terutama bencana tsunami, gempabumi dan gunungapi meletus, seringkali orang mengacu pada ilmu geologi dan geofisika. Bencana banyak terdomesitifikasi dalam spektrum kedua disiplin ilmu tersebut. Padahal kita tahu bahwa objek studi kedua disiplin tersebut adalah bumi. Kalau sudah tahu tentang patahan pada bumi misalnya, apa selanjutnya yang akan dilakukan oleh kedua disiplin ilmu ini dengan patahan tersebut? Yang dapat mereka lakukan adalah peringatan. Selanjutnya adalah persoalan sosial.

Dengan demikian, dimulai dari momen itu, bencana secara perlahan berubah menjadi fenomenon sosial. Pada dasarnya sebuah bencana disebut bencana jika dan hanya jika menimpa manusia. Tentang hal ini dapat kita cermati dari perbandingan dua kasus tanah longsor.

Pertama, kasus longsoran Sherman di Alaska yang secara langsung merupakan konsekuensi dari gempabumi pada tahun 1964. Longsoran Sherman melibatkan 29 juta kubik batuan yang bergerak dalam kecepatan 180 km/jam menuju lembah tak berpenghuni. Kecuali dari sudut pandang flora dan fauna dan keingintahuan para geolog, longsoran Sherman tidak masuk catatan sebagai bencana. Bahkan ia hanya diketahui secara tak sengaja karena adanya survei rutin foto udara melalui pesawat. Sebaliknya, kedua, longsoran Aberfan di Wales Selatan yang 193 kali lebih kecil dan 25-30 kali bergerak lebih lambat, tetapi menyebabkan 144 orang korban, disebut sebagi bencana yang besar.

read more…

Belajar dari Haiti EQ untuk Mitigasi Sumatra EQ

2010 January 22

Gempa (EQ-earthquake) besar (“large, but it was not huge”, kata Jian Lin dari WHOI –Woods Hole Oceanographic Institution) di Haiti pada 12 Januari 2010 terjadi akibat patahan batuan di sebuah sesar mendatar sinistral bernama Enriquillo-Plantain Garden Fault (lihat ulasan di bawah). Sesar ini panjangnya 500 km, wilayah pematahan kemarin terjadi pada sebuah segmen sesar dengan panjang 50-60 km. Sesar ini sesar aktif yang bergerak dengan laju 7mm/tahun.

Dalam proses pergeserannya, tentu sesar ini tidak mulus bergeser seperti pergeseran antara persentuhan dua balok besi yang lurus dan rata. Tetapi, pasti di beberapa tempat terdapat penguncian tektonik (coupling) pergerakan karena berbagai geometri segmen batuan/kerak Bumi yang acak. Pergerakan di suatu tempat memang terkunci, tetapi secara regional dua segmen di kedua sisi Enriquillo-Plantain Garden Fault bergerak terus karena mengakomodasi gerakan Lempeng Amerika Utara dan Lempeng Karibia dengan laju 20 mm/tahun. Maka, wilayah terkunci itu hanyalah sementara sebab di luarnya terus bergerak. Di wilayah terkunci, gaya tekan akibat pergeseran batuan akan terakumulasi sekian lama membentuk energi potensial yang sangat besar, misalnya selama puluhan atau ratusan tahun. Kala segmen batuan/kerak tak kuat lagi menahan stress yang begitu besar, pecahlah ia dan bergeser –rupture and slide, patahan, sesar. Seketika energi potensial yang kumulatif segera berubah menjadi energi kinetik dengan magnitude yang sama (hukum kekekalan energi) tetapi tersebar ke segala arah dalam bentuk energi gerak –goyangan, ayunan, dan goncangan gempa kita menyebutnya.

posisi Haiti dalam kerangka teltonik lempeng (sumber iamge: http://www.immortaltechnique.co.uk/)

posisi Haiti dalam kerangka teltonik lempeng (sumber iamge: http://www.immortaltechnique.co.uk/)

Skala magnitude 7,0 Mw atau 7,0 SR sebenarnya titik awal saja untuk sebuah gempa besar, tetapi mengapa korban tewas di Haiti begitu besar (bisa ratusan ribu orang tewas, dan sekitar 1,5 juta orang terkena dampaknya menurut berita terakhir). Ada tiga penyebab, paling tidak : (1) gempanya dangkal – 13 km, (2) terjadi di pinggir ibu kota Haiti, (3) menyerang kawasan yang bisa disebut kumuh di wilayah itu dengan bangunan tempat tinggal yang dibangun seadanya. Bahkan istana raja Haiti pun diporakporandakan gempa, apalagi kawasan kumuh di pinggir ibu kota.

read more…

Thinking out of the box

2010 January 13
by IAGI-Admin
nanangmanaf

Pak Nanang Manaf

Artikel Pak Nanang Manaf

Pernahkah kita membayangkan dari sebuah impian lahir suatu peristiwa besar, bahkan mencetuskan sejarah revolusi suatu bangsa?

Itu terjadi kurang lebih 109 tahun yang lalu di sebuah kota kecil, di sudut tenggara negara bagian Texas, Amerika, yang dikenal sebagai kota Beaumont. Pattillo Higgins, seorang geologist yang gigih bermimpi suatu hari kelak kota kelahirannya itu akan menjadi sebuah kota pelabuhan yang ramai dengan pabrik-pabrik yang berdiri megah, kapal-kapal besar berlalu lalang, keluar masuk pelabuhan, serta tanah pertanian yang luas, yang semuanya digerakan dengan sumber energi minyak bumi. Padahal pada saat itu, minyak bumi baru ditemukan dalam jumlah yang kecil dan terbatas hanya dimanfaatkan untuk penerangan dan bahan pelumas saja. Batu bara merupakan sumber energi utama pada masa itu. read more…