Kerajaan Demak dan Geologi Selat Muria

2009 July 23

Oleh Pak Awang

Sebuah  buku baru, “Ensiklopedi Kelirumologi” (Jaya Suprana, 2009 – Elex Media Komputindo-Kompas Gramedia), memuat sebuah entri berjudul “Demak” di halaman 98. Di dalam entri itu diceritakan bahwa tentang lokasi bekas Keraton Kerajaan Demak belumlah ada kesepakatan di antara para ahli. Sekelompok ahli mengatakan bahwa letak lokasi keraton tersebut paling mungkin ada di kawasan selatan alun-alun kota Demak sekarang dan menghadap ke utara. Di kawasan selatan Demak ini terdapat suatu tempat bernama Sitinggil/Siti Hinggil–sebuah nama yang biasanya berasosiasi dengan keraton. Namun kelompok ahli yang lain menentang pendapat tersebut sebab pada abad XV, yaitu saat Kerajaan Demak ada, kawasan Demak masih berupa rawa-rawa liar. Sangat tidak mungkin kalau Raden Patah mendirikan kerajaannya di situ. Yang lebih mungkin, menurut kelompok ini, pusat Kerajaan Demak ada di wilayah sekitar Semarang yaitu Alastuwo, Kecamatan Genuk. Pendapat ini didukung oleh temuan benda-benda arkeologi. Menurut Jaya Suprana, salah satu dari kedua pendapat itu mungkin keliru, tetapi bisa juga dua-duanya keliru (!). Demikian ulasan tentang Demak dalam kelirumologi ala Jaya Suprana.

read more…

Pola Magnetik Dasar Laut dan Rekonstruksi Pangea

2009 May 8

Oleh: Minarwan

 

Di awal bulan Maret (tahun lalu) telah diceritakan bahwa konsep yang dikemukakan oleh Alfred Lothar Wegener (1880-1930), tentang daratan mahaluas bernama Pangaea yang ada pada akhir Era Paleozoic, akhirnya bisa diterima oleh komunitas geosains dan berkembang menjadi teori Tektonik Lempeng di tahun 1970-an (buka di sini). Ide Wegener diperdebatkan kembali sejak tahun 1950an seiring dengan berbagai penemuan yang dilakukan oleh para oceanographer and seismologist, terutama berupa mid-oceanic ridge alias pematang tengah samudera dan variasi magnetik dasar laut.

 

 

Keberadaan variasi magnetik dasar laut sebenarnya tidak dianggap aneh pada waktu itu karena telah disadari bahwa basalt (yang juga diketahui menyusun dasar laut) mengandung mineral magnetite yang dapat mengacaukan hasil pembacaan kompas saat pengukuran pada singkapan. Fenomena magnetik dasar laut membuat para geophysicist melakukan penelitian lebih detil dan hasilnya ternyata memperlihatkan bahwa variasi magnetik itu berpola (Gambar 1).

gambar-1

Gambar 1. Pola variasi magnetik dasar laut Mid-Atlantic Ridge di selatan Islandia (diambil dari http://www.newgeology.us/presentation25.html)

 

read more…

Batu Ponari, Benarkah Artefak Jenis Beliung Persegi?

2009 April 9
by admin

Oleh: Mang Okim

Tanggal 26 April 2009 yad, seluruh alumni SMAN 1 sampai 7 Surabaya akan mengadakan reuni akbar . Pada kesempatan tersebut, panitia minta mang Okim untuk bicara tentang dunia batumulia yang kalau mungkin dikaitkan dengan The Magic Stone of Ponari. Mendapat tantangan tersebut, mang Okim langsung buka Google dan menelusuri seluruh artikel tentang Batu Ponari. Di salah satu artikel dijelaskan bahwa batu samber gledeknya Ponari adalah sebuah peralatan batu prasejarah dari periode Neolitikum . Jenisnya dipastikan beliung persegi yang bagian-bagian sisinya diupam atau dipoles (ciri khas artefak Neolitikum). Kesimpulan ini diberikan oleh seorang Doktor Arkeologi Universitas Indonesia berdasarkan foto-foto yang dikirim kepada beliau oleh Dinas Terkait di Surabaya / Jombang.

Usai membaca artikel di atas dan atas bantuan Prof. Harry Truman Simanjuntak di Jakarta dan Drs.Lutfi Yondri MSc di Balai Arkeologi Bandung, mang Okim alhamdulilah berhasil mendapatkan nomer HP Pak Doktor yang ternyata spesialis kampak beliung ( disertasi doktornya ). Mang Okim mendapatkan penjelasan dari beliau bahwa foto-foto yang dikirim kepada beliau kurang jelas. Mengulangi pernyataan beliau di artikel Google, berdasarkan penampilan di foto dan adanya bekas pengupaman, dapat dipastikan bahwa batu Ponari tersebut jenisnya memang beliung persegi. Sayang sekali bahwa sampai saat ini, Pak Doktor belum sempat meneliti langsung batu Ponari tersebut walaupun telah diundang oleh POLRI dan TNI AD. Mengenai jenis batunya, menurut beliau adalah sejenis rijang atau chert.

read more…

Belajar dari Situ Gintung

2009 April 9
by admin

Oleh Imam A. Sadisun adalah anggota Kelompok Keilmuan Geologi Terapan, FITB - ITB dan Ketua Divisi Geologi Teknik - IAGI.

SITU atau dalam istilah yang lebih umum juga dikenal sebagai danau berukuran relatif kecil, dapat terbentuk secara alamiah maupun buatan. Situ-situ ini mendapatkan pasokan air baik dari curah hujan, mata air, atau bahkan sungai-sungai yang terdapat di sekitarnya. Beberapa situ memiliki saluran keluar (outlet) yang terkadang juga dapat terbentuk secara alamiah atau merupakan konstruksi buatan, yaitu dengan membangun bendungan kecil atau tanggul.

Situ Gintung di wilayah Cirendeu, Tangerang, Banten, pada mulanya merupakan situ yang terbentuk secara alamiah. Tanggul pada situ ini dibangun sejak zaman Pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, yaitu pada 1933 (Detik.com, 27/3). Berdasarkan Peta Geologi Lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu yang dibuat Turkandi dkk. (1992), Situ Gintung berada pada satuan batuan endapan volkanik.

read more…

Mengejar Meteor

2009 April 6
by admin

Oleh: Awang HS

Pada sebuah bagian di dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan Sutawijaya, saat ia belum menjadi Raja Mataram, sedang bersamadi di pantai selatan Jawa ditemani penasihatnya yang setia Ki Jurumertani. Tiba-tiba di langit, muncullah kilatan cahaya berwarna hijau yang menyorot Sutawijaya. Ki Jurumertani pun serentak mendengar sebuah suara tanpa wujud yang mengatakan bahwa Sutawijaya akan menjadi seorang raja penguasa Tanah Jawa. Sejarah mencatat bahwa Sutawijaya memang menjadi raja pertama Mataram (Islam) pada tahun 1586 dengan gelar Senapati Sunan Mataram.
 
Kilatan cahaya yang menyorot Sutawijaya itu adalah sebuah meteor. Menurut kepercayaan orang-orang Jawa, kilatan cahaya meteor atau bintang jatuh itu bisa berarti nasib baik atau nasib buruk. Bila cahayanya berwarna merah, maka bintang jatuh itu adalah bintang pembawa malapetaka. Bila berwarna hijau, maka bintang ini adalah pembawa wahyu dan bisa memberikan kekuasaan duniawi kepada orang yang mendapat sorotannya (Admiranto, 2000). 
 

read more…

Stratigrafi Sumatra “From surface to Basement”

2009 April 1
by admin

Dari postingan Pakdhe RDP

Tahun 2005, IAGI Pengda Riau menyelenggarakan lokakarya dua hari berjudul Sumatra Stratigraphy Workshop (SSW). Setelah bertarung kuat para peserta workshop ini akhirnya berhasil menyusun sebuah buku penting yang berjudul:

Stratigrafi Sumatra “From Surface to Basement”

Anda dapat memperoleh buku ini dengan harga hanya 150. 000 rupiah saja.

Silahkan hubungi yang dibawah ini :

sumatra_strat_workshop

Ini Buku Baru, Ini Baru Buku

Cekungan Bengkulu

2009 March 22
by admin

Cekungan Bengkulu adalah salah satu cekungan forearc di Indonesia. Cekungan forearc artinya cekungan yang berposisi di depan jalur volkanik (fore - arc; arc = jalur volkanik). Tetapi, kita menyebutnya demikian berdasarkan posisi geologinya saat ini. Apakah posisi tersebut sudah dari dulu begitu? Belum tentu, dan inilah yang harus kita selidiki. Publikasi-publikasi dari Howles (1986), Mulhadiono dan Asikin (1989), Hall et al. (1993) dan Yulihanto et al. (1995)—semuanya di proceedings IPA baik untuk dipelajari soal Bengkulu Basin.

Berdasarkan berbagai kajian geologi, disepakati bahwa Pegunungan Barisan (dalam hal ini adalah volcanic arc-nya) mulai naik di sebelah barat Sumatra pada Miosen Tengah. Pengaruhnya kepada Cekungan Bengkulu adalah bahwa sebelum Misoen Tengah berarti tidak ada forearc basin Bengkulu sebab pada saat itu arc-nya sendiri tidak ada.

read more…

Kontroversi “Chryse Chersonesos” dan Kontribusi Geologi

2009 March 17

Oleh:  Awang HS

Perdebatan kepemilikan akan sesuatu antara Malaysia dan Indonesia telah terjadi, dari perdebatan kepemilikan akan pulau di perbatasan kedua negara, reog, batik, bahkan rendang. Dalam hal ini, Malaysia selalu mengklaim bahwa itu miliknya, dan Indonesia mempertahankan apa yang menjadi miliknya.
 
Menggali buku-buku lama, rupanya perdebatan semacam itu telah terjadi juga pada hampir 50 tahun yang lalu; terjadi pada literatur-literatur sejarah. Ada sebuah kontroversi di dalam sejarah yang menyangkut apa yang dimaksud oleh Caludius Ptolemaeus, ahli astronomi dan geografi Mesir awal abad Masehi (sekitar 87-150 AD), sebagai “Chryse Chersonesos” yang suka diterjemahkan di kalangan sejarah Asia Tenggara sebagai Semenanjung Emas. 
 
read more…

Selamatkan Karst Citatah Sekarang Juga!!!

2009 March 12
by admin

Oleh:  Mang Okim 

 

Berita tentang keputus-asaan para ahli geologi khususnya dari Kelompok Riset Cekungan Bandung (RCB) yang ditulis oleh banyak surat kabar lokal , regional dan nasional beberapa hari yang lalu , ditambah lagi dengan ulasan di radio BBC London kemaren pagi, alhamdulilah telah mengetuk sanubari banyak para tokoh untuk datang menghadiri acara pembukaan Pameran Foto Selamatkan Karst Citatah. Acara yang diperkirakan akan dihadiri oleh sekitar 100 - 150 orang ternyata membengkak menjadi sekitar 250 orang. Insan pers tak terhitung banyaknya, demikian juga photographers. Dari para tokoh yang hadir tampak antara lain Wagub Jabar Bapak Dede Yusuf, Sek.Badan Geologi Dr. Djadjang  mewakili Dr. Suchyar, Dirut Pikiran Rakyat Bapak Syafik Umar, Waka LIPI Dr. Hery Heriono, Kapus Survey Geologi merangkap Ketua IAGI Pengda Jabar dan Banten Dr. Ade , sesepuh dan budayawan UNPAD Prof. Kusnaka, Kepala Museum Geologi Bandung Dr. Yunus ( yang dengan tulus menyediakan seluruh fasilitas museum berikut snacknya), dan banyak tokoh geologi senior lainnya seperti Prof. Fachrul Azis dll.

  read more…

The 38th IAGI Annual Convention & Exhibition Calls for Papers

2009 March 12
by admin

Call for Papers from The 38th IAGI Annual Convention & Exhibition. The Convention will take place 13-14 October 2009 at Semarang, Central Java Province. This event is hosted by Pengda IAGI Jateng.

This year, The 38th IAGI Annual Convention & Exhibition offers several program for its participants, including :

  read more…